BIOMA UNDIP

Situsnya Anak Biologi 2005 FMIPA UNDIP

Antioksidan Isoflavon

Posted by Bioma pada 5 Juni, 2008

by haris iwan
Antioksidan Alami Yang Mengandung Isoflavon
Sebenarnya banyak sekali tanaman yang dapat digunakan untuk menanggulangi sindrom menopause seperti diuraikan di atas seperti Black Cokosh (Cimuicifuga racemosa) untuk mencegah keluhan rematik dan merangsang haid tetapi tanaman ini banyak terdapat di Amerika, kemudian Red Clover (Trifolvum proteanse) yang mampu mencegah semburan panas dan banyak dikonsumsi perempuan di Amerika kemudian Dong Quai (Angelica sinensis) yang banyak digunakan untuk mengatasi sakit perut akibat haid dan Wild Yam (Dioscorea villosa) untuk mencegah hot flashes dan sakit pada kandung kemih, namun dosisnya belum diketahui dengan jelas.
Sumber tanaman yang banyak di Indonesia yang dapat diperoleh dengan mudah dan dapat mengurangi keluhan-keluhan menopause antara lain adalah yang banyak mengandung isoflavon. Sebelum mengetahui siapa sumber antioksidan berisoflavon perlu dijelaskan siapa isoflavon.
“Isoflavon???”
Isoflavon adalah senyawa yang termasuk kelompok flavonoid dan merupakan estrogen dari tumbuh-tumbuhan atau disebut fitoestrogen yang merupakan sumber estrogen alami dan mempunyai gugus aktif daidzein, genistein dan glisitein.
“Sumber Isoflavon Dan Produk Turunannya???”
Senyawa isoflavon tersebar luas pada berbagai bagian tanaman yaitu akar, batang, daun maupun buah. Sebagai metabolit sekunder, isoflavon banyak terdapat pada tanaman khususnya golongan Leguminoceae, antara lain kacang kedelai, kacang tunggak tetapi banyak juga pada semanggi, biji wijen, bunga matahari, bengkuang, jeruk dan tomat. Dalam satu gram protein kedelai mengandung isoflavon sebesar 3,5 mg. Kandungan tertinggi terdapat pada produk kedelai yang difermentasi seperti tempe.
Dari beberapa bahan pangan yang telah dianalisis, diketahui bahwa kedelai menempati urutan pertama, mengandung daidzein 10,5-85 mg/100g dan genistein 26,8-120,5 mg/100g berat kering. Sedangkan urutan kedua biji semanggi (clover), hanya mengandung daidzein 0,178 mg/100g dan genistein 0,323 mg/100g berat kering, sehingga sampai sekarang kedelai menjadi pilihan utama sebagai sumber isoflavon. Kedelai yang telah diolah masih memiliki isoflavon meskipun mengalami penurunan.

“Berapakah Dosis Isoflavon Yang Diperlukan???”

Peneliti dari Department of Food Science and Human Nutrition, University of Illinois, Susan M. Potter dan kawan-kawan telah meneliti hal tersebut dengan memberikan suplementasi protein kedelai yang mengandung isoflavon sebesar 56 mg/hari dan 90 mg/hari selama enam bulan kepada 66 wanita pasca menopause. Hasilnya, kepadatan mineral tulangnya pada kelompok 90 mg/hari meningkat, sedangkan pada kelompok 56 mg/hari tidak. Informasi ini memberikan petunjuk bahwa asupan isoflavon minimal setiap hari sangat diperlukan untuk mencapai efek positif menjaga kesehatan tulang. Di Jepang asupan isoflavon kedelai rata-rata mencapai 35-200 mg/hari, merupakan negara yang warganya paling tinggi mengkonsumsi kedelai. Hal ini tampaknya sangat berkaitan dengan rendahnya insiden osteoporosis wanita-wanita Jepang. Di Indonesia, asupan isoflavonnya kurang lebih hanya 40 mg/hari atau setara dengan 13,3 g kedelai/hari.

“Potensi Isoflavon Kedelai???”

Mengingat berbagai potensi kedelai sebagai sumber gizi dan senyawa aktif serta prospeknya untuk dikembangkannya produk-produk baru, kedelai banyak disebut sebagai “The golden bean, the miracle bean, food for the future”. Karena kemampuannya sebagai penangkap (scavenger) radikal, yaitu dengan cara mengubah O2.(–) (ion superoksida yang merupakan metabolit tereduksi) yang dikatalisa oleh reaksi dismutasi. Suplementasi isoflavon dalam bentuk kedelai sebanyak 40 g/hari selama 24 minggu mampu melindungi wanita peri menopause dari stres oksidatif. Terjadinya peningkatan aktivitas enzim SOD oleh isoflavon, diduga karena ikatan isoflavon dan reseptor estrogen mampu berdifusi ke dalam inti sel dan dapat berikatan dengan DNA. Ikatan ini menginduksi produksi dan eksprersi mRNA, kemudian keluar inti sel dan mensintesis protein baru di sitoplasma. Dengan demikian masyarakat Indonesia dan juga Asia yang banyak mengkonsumsi kedelai dan turunannya banyak diuntungkan.

Orang Jepang yang berkemungkinan mengidap kanker prostat jauh lebih rendah daripada orang Amerika, mengkonsumsi kedelai minimal ± 31 g/hari. Rata-rata orang Asia mengkonsumsi genistein ± 50-75 mg/hari, lebih kurang setara dengan jumlah yang terdapat dalam tempe dengan berat 100 g.

Lesitin

Kedelai seperti diuraikan di atas sangat penting sekali karena memiliki protein hampir 11 kali dari susu, 2 kali dari daging meskipun kualitas proteinnya rendah tetapi yang paling penting mengandung lesitin yaitu senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, karena lesitin adalah sumber dari kolin yang penting untuk pembentukan sel-sel membran tubuh. Disamping itu lesitin bermanfaat sekali untuk menanggulangi kolesterol dan pengerasan pembuluh darah sehingga mencegah penyakit jantung koroner dan penyakit degeneratif lainnya.

Tempe

Tempe bukan saja sebagai sumber protein, tetapi juga mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, seng) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh. Jumlah mineral zat besi, tembaga, dan seng berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.

“Khasiat dan Kandungan Gizi Tempe”

Tempe berpotensi untuk melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif. Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.

Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: