BIOMA UNDIP

Situsnya Anak Biologi 2005 FMIPA UNDIP

Susu Organik Mengandung Omega 3 dan Anti Oksidan Lebih Tinggi

Posted by Bioma pada 4 Juni, 2008

Omega-3
Penelitian yang dilakukan di Inggris oleh Institute of Grassland and Environmental Research (2003) dan Universitas Aberdeen (2004) menunjukkan bahwa susu organik mengandung omega-3 lebih tinggi (71%) ketimbang susu non organik. Begitu juga dengan rasio omega-3 dan omega-6, ternyata susu organik lebih baik daripada susu non organik.

Omega-3 berguna untuk menurunkan kadar lemak darah (kolesterol dan trigliserida). Zat ini mencegah pembekuan darah, yang disebabkan oleh trombosit, sehingga tidak terjadi penyumbatan pada pembuluh darah arteri yang pada akhirnya dapat melindungi jantung dan pembuluh darah dengan cara menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah.

Sementara untuk bayi, omega-3 penting untuk perkembangan fungsi saraf dan penglihatan. Bahkan jauh sebelum bayi lahir, tepatnya saat proses tumbuh kembang otak, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi makanan yang mengandung omega-3.

Di usia dewasa, omega-3 mempunyai peran khusus. Otak, susunan saraf pusat dan saraf tulang punggung, sebagian besar terdiri atas asam lemak tak jenuh (esensial). Kerusakan susunan saraf ini banyak disebabkan oleh kurangnya asam lemak esensial (omega-3 dan omega-6), sehingga menyebabkan hilangnya daya ingat di usia menengah dan turunnya fungsi otak secara drastis (premature senile dementia).

Omega-3 juga berperan penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh dan menghambat beberapa jenis kanker. Selain itu juga dapat menurunkan resiko penyakit jantung koroner hingga 50%, menekan kolesterol jahat (LDL) sehingga mengurangi resiko aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah) yang sering menyebabkan penyakit jantung koroner atau stroke.

Vitamin E, Vitamin A dan Anti Oksidan
Hasil penelitian Jacob Holm, ahli bio kimia dari Institut Ilmu Pertanian Denmark yang bekerjasama dengan Universitas Newcastle Inggris dalam program Quality Low Impact Food menyatakan bahwa susu organik mengandung vitamin E, vitamin A dan anti oksidan lebih tinggi ketimbang susu non organik.

Sapi yang dipelihara secara organik, digembalakan dan diberi pakan rumput segar, hasil produksi susunya mengandung vitamin E (alfa tokoferol) 50% lebih tinggi, dan beta karoten (di dalam tubuh diubah menjadi vitamin A) 75% lebih tinggi, serta kandungan anti oksidan lutein dan zeaxanthine dua sampai tiga kali lebih tinggi.

Meminum setengah liter susu organik mengandung 17,5% vitamin E yang diperlukan oleh wanita dan 14% bagi pria. Juga mengandung beta karoten yang sama banyaknya dengan seporsi sayuran.

Anti Tumor
Semua susu mengandung asam linoleat terkonyugasi (conjugated linoleic acid=CLA) yang dipercaya menambah kekebalan tubuh dan mengurangi pertumbuhan tumor. Kandungan CLA dalam susu organik lebih tinggi, hal ini kemungkinan karena sapi organik lebih banyak diberi makan rumput dan pakan alami ketimbang pakan berkonsentrat.

Bebas Residu Pestisida dan Kontaminasi Lainnya
Susu yang dihasilkan dari ternak sapi organik dapat mengurangi resiko terkonsumsinya residu pestisida yang terbawa pada susu. Hal ini karena padang rumput tempat penggembalaan sapi pada peternakan organik tidak menggunakan pestisida (insektisida, fungsida atau herbisida).

Dr. Vyvyan Howard, seorang patologis dan ahli toksilogi Jurusan Anatomi Manusia dan Biologi Sel Universitas Liverpool Inggris mengatakan bahwa peningkatan bahaya bahan kimia dalam tubuh manusia telah terjadi sejak Perang Dunia II ketika pertanian dikelola secara intensif. Dalam 50 tahun terakhir, Dr. Howard telah menelusuri 300-500 bahan kimia berbahaya yang potensial diserap tubuh manusia.

“Saat ini batas keselamatan pangan resmi didasarkan pada penelitan kimia-petanian. Tidak ada tes toksikologi untuk kombinasi kimiawi, meskipun pada kenyataannya penelitian-penelitian tersebut menyarankan bahwa dampak penggabungan bahan-bahan kimia dapat lebih berbahaya. Mengkonsumsi pangan yang ditanam secara organik adalah cara efisien untuk menghindari bahan-bahan kimia tersebut.”

Pada Desember 2001, sebuah laporan pemerintah Inggris menyatakan bahwa ditemukan pestisida berbahaya (Lindane) sebanyak 18% pada contoh susu non-oganik di seluruh Inggris. Lindane adalah hormon pengganggu yang berkaitan dengan cacat-lahir, kelainan seksual, gangguan reproduksi dan kanker payudara. Laporan yang sama membuktikan bahwa contoh-contoh mentega yang dites mengandung DDT, yang dapat merusak susunan syaraf dan dapat menyebabkan kanker pada manusia. Dan tidak ditemukan residu pestisida pada contoh-contoh pangan organik yang dites.

Karena standar pangan organik yang ketat, maka para petani Inggris merupakan ujung tombak praktik-praktik pertanian organik Eropa. Para petani organik Inggris tidak menggunakan pestisida dari kimia sintesis, ini berarti bahwa makanan dijamin tidak mengandung bahan kimia yang dapat merusak kesehatan keluarga.

Beberapa pakar percaya bahwa anak-anak rentan terhadap residu pestisida – jumlah makanan yang mereka konsumsi lebih banyak ketimbang orang dewasa, sistem organ yang belum matang dan keterbatasan kemampuan dalam detoksifikasi bahan-bahan berbahaya tersebut.

Dan maraknya masalah kesuburan pada manusia sangat berkaitan dengan pestisida. Lima dari 12 kasus mencurigai residu pestisida sebagai penyebab gangguan hormon yang disebabkan oleh bahan kimia.

Antibitotik dan Hormon Kesuburan
Sapi organik hanya diberi antibiotik saat sakit, berbeda dengan sapi non organik yang diberi antibiotik secara rutin sebagai tindakan pencegahan. Jika sapi organik diberi antibiotik, maka sapi tersebut ‘diistirahatkan dulu’. Dengan kata lain susu yang dihasilkannya tidak dapat dikonsumsi sebagai susu organik selama sedikitnya 2×48 jam.

Hormon Pemacu Pertumbuhan (HPP) pada ternak bertujuan untuk meningkatkan berat badan ternak tanpa harus diberi pakan dalam jumlah banyak dan meningkatkan kesuburan ternak. Hormon ini umum digunakan pada ternak sapi, domba, unggas.

HPP dapat berdampak pada pubertas dini pada anak-anak, gangguan hormon seks dan kanker payudara. Sapi organik dilarang menggunakan hormon kesuburan.

GMO (Genetically Modified Organisms/Organisme Hasil Rekayasa Genetik)Susu organik dihasilkan dari sapi yang tidak diberi makan dari pakan yang mengandung organisma hasil rekayasa genetika. Pakannya bebas dari ekstrak-ekstrak pelarut dan urea, sehingga susu organik kemungkinan tidak mengandung bahan hasil rekayasa genetika atau residu pelarut.

Sapi Gila

Penyakit sapi gila (Bovine Spongiform Encephalopathy=BSE) muncul sekitar tahun 90-an. Penyakit ini pernah mewabah di Inggris dan Kanada pada tahun 1995 dan 2001. Penyebabnya belum jelas, para ahli menyebut prion, yaitu protein yang hidup, sebagai penyebabnya. Penyakit ini menyebabkan otak sapi berubah menjadi seperti spon atau karet busa. Jika otak sudah seperti ini, otomatis tak dapat lagi berfungsi, lalu timbul gejala-gejala fisik seperti kegilaan pada sapi. Jalan sempoyongan, tidak nafsu makan, keluar air liur dan matanya mengeluarkan air terus menerus.

Untuk menghasilkan daging dan susu dalam jumlah banyak, sapi yang secara alami memakan tumbuh-tumbuhan, dipaksa menjadi karnivora dan melakukan praktek kanibalisme secara tidak langsung dengan memberi pakan yang berasal dari lambung kelenjar/perut hewan lain.

Untuk memenuhi kebutuhan protein pada pakan ternak, sapi atau biri-biri yang dipotong, jeroannya tidak dimakan dan tidak juga dibuang. Melainkan diolah, digiling lagi untuk dijadikan pakan hewan sebagai sumber protein bagi ternak. Bagian-bagian tubuh sapi yang tidak dijual dibuat menjadi tepung. Pakan ini yang dinamakan tepung darah, tepung tulang, tepung hati dan sebagainya. Nah, sumber protein itulah yang sejak tahun 90-an dianggap sebagai pemicu munculnya sapi gila dan mewabah di Inggris dan Kanada pada tahun 1995 dan 2001.

Sapi organik tidak pernah diberi pakan yang berasal dari hewan, sehingga tidak ada kasus sapi gila di Inggris yang ditemukan berasal dari peternakan sapi organik.(**) (apr)

Sumber: http://www.omsco.co.uk dan berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: