BIOMA UNDIP

Situsnya Anak Biologi 2005 FMIPA UNDIP

Membudidayakan Rajungan dan Kepiting

Posted by Bioma pada 4 Juni, 2008

INDONESIA merupakan negara kepulauan dengan 2/3 dari seluruh daerah teritorialnya berupa perairan laut. Dengan garis pantai sepanjang 81.000 kilometer, Indonesia punya banyak teluk dan goba yang memberikan banyak kesempatan untuk membuka usaha budidaya laut. Pada saat ini, ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi mengenai budidaya laut telah meliputi beragam spesies ikan, teripang, kerang-kerangan, dan krutase; di antaranya budidaya rajungan dan kepiting.

“Prinsip budidaya rajungan maupun kepiting hampir sama dengan budi daya udang. Penyesuaian teknik budidaya untuk tiap-tiap jenis rajungan/kepiting didasarkan pada perbedaan aspek biologi dari masing-masing jenis yang dibudidayakan,” kata Dr Sri Yuwana saat pidato pengukuhannya sebagai Ahli Peneliti Utama LIPI bidang marikultur di Jakarta, Selasa (14/9) lalu.

Rajungan dan kepiting termasuk dalam taksa Brachyura. Di perairan Indonesia dijumpai ada 1.400 jenis. Jenis-jenis yang umum dijumpai di perairan Teluk Jakarta adalah rajungan (Portunus pelagicus) dan kepiting (Scylla serrata). Di antaranya yang berukuran cukup besar dan bisa dimakan adalah dari jenis Charybdis feriatus dan Thalamitta prymna. Baru-baru ini, para peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari satu jenis scylla secara genetis, yaitu dengan ekstrasi DNA, masing-masing Scylla serrata, Scylla tranquebarica, scylla paramamosain, dan Scylla olivacea.

Di antara jenis rajungan di Indonesia, Portunus pelagicus merupakan jenis yang mempunyai nilai ekspor tinggi dalam bentuk rajungan beku atau kemasan dalam kaleng. Komoditas ekspor ini sepenuhnya masih merupakan hasil tangkapan dari tambak atau laut.

Meskipun dalam statistik perikanan Indonesia sampai dengan tahun 1999 tidak menunjukkan penurunan produksi rajungan dari laut, namun di beberapa perairan, rajungan sudah sangat jarang ditemukan. Misalnya, pada periode tahun 1974/1975, rajungan merupakan biota laut yang cukup melimpah di perairan Pulau Pari. Tapi pengamatan dalam periode 1991/1992 menunjukkan perairan Pulau Pari didominasi oleh larva kepiting grapsid yang tidak bernilai ekonomis penting, meskipun kondisi lingkungan dan kualitas perairan Pulau Pari masih baik untuk kehidupan burayak atau larva biota laut.

Hasil statistik perikanan Indonesia tahun 1990/1999 menunjukkan, rajungan dan kepiting merupakan komoditas ekspor yang mempunyai nilai ekonomis tinggi setelah udang dan ikan. Nilai ekspor kepiting/rajungan pada tahun 1999 mencapai 54 juta dollar AS.

Meskipun produksi rajungan untuk perairan Indonesia sampai dengan tahun 1999 secara keseluruhan tidak menurun, tetapi di beberapa daerah telah menunjukkan penurunan produksi. Misalnya, produksi rajungan di TPI Bondet, Desa Mertasinga, Kabupaten Cirebon, pada tahun 1997 (29.195 kg) menurun bila dibandingkan dengan hasil tangkapan tahun 1996 (74.012 kg)

Telah diketahui bahwa pemanfaatan sumber daya hayati perairan harus selalu diikuti dengan pengendaliannya. Antara lain penelitian dan penerapan budidaya harus ditingkatkan. Usaha budidaya merupakan salah satu usaha pengembangan biota laut yang berarti ekonomis dan menjaga pelestariannya, di samping itu juga menambah lapangan kerja.

SELURUH rangkaian kegiatan Dr Sri Yuwana bermula dari percobaan-percobaan larva rajungan Portunus pelagicus, sampai menjadi benih rajungan siap tebar (Crab IV-V) yang dapat menghasilkan “Teknik Produksi Massal Benih Rajungan”. Teknik pembenihan rajungan ini mudah dilakukan oleh masyarakat hatchery (tempat penetasan) karena tidak menggunakan probiotik, melainkan menggunakan air laut berlimpah yang telah melalui proses penyaringan bertingkat, klorinasi, deklorinasi dan radiasi dengan sinar ultraviolet.

Juga bersifat ramah lingkungan karena tidak menggunakan antibiotik. Jika produksi massal, benih rajungan ini dilakukan di hatchery yang mempunyai sumber air laut yang tidak tercemar seperti perairan Teluk Jakarta, niscaya biaya processing air laut akan jauh lebih murah dan kontinuitas produksi benih dapat terjamin.

Pembesaran benih rajungan dapat dilakukan secara polikultur dengan ikan herbivora dalam jaring kantong mendasar, atau dengan ikan karnivora dalam jaring kantong bersusun, atau secara penebaran kembali ke daerah perlindungan laut.

Prinsip dari pembenihan rajungan ini ternyata dapat diterapkan juga untuk pembenihan kepiting bakau, meskipun polikultur kepiting dengan ikan di dalam jaring kantong mendasar tidak dapat dilakukan untuk semua jenis kepiting.

Budidaya rajungan dari saat penetasan telurnya sampai menjadi induk pemijah kembali memerlukan waktu lima bulan. Akan tetapi, budidaya kepiting memerlukan waktu lebih panjang. Maka, untuk penerapan budidaya kepiting sebaiknya ada pembagian lapangan pekerjaan. Misalnya, untuk produksi benih kepiting dilakukan oleh masyarakat hatchery. Kemudian untuk pendederan benih kepiting menjadi kepiting mudah berbobot 20 gram dapat dilakukan oleh masyarakat pantai yang mempunyai lahan, sedangkan aktivitas pembesaran kepiting muda dan penggemukan kepiting telah dilakukan oleh petambak atau masyarakat pantai di dalam keramba bambu sejak dahulu kala.

Kegiatan budidaya rajungan dan kepiting tidak saja mempunyai luaran yang bersifat terapan, termasuk komposisi pakan buatan, melainkan juga mempunyai luaran yang bersifat informasi ilmiah, yaitu pertelaan larva Brachyura, yang dalam jangka panjang akan dapat membentuk kunci identifikasi larva Brachyura sampai ke arah spesies. (LOK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: