| by haris iwan | |
|
Antioksidan Alami Yang Mengandung Isoflavon
Sebenarnya banyak sekali tanaman yang dapat digunakan untuk menanggulangi sindrom menopause seperti diuraikan di atas seperti Black Cokosh (Cimuicifuga racemosa) untuk mencegah keluhan rematik dan merangsang haid tetapi tanaman ini banyak terdapat di Amerika, kemudian Red Clover (Trifolvum proteanse) yang mampu mencegah semburan panas dan banyak dikonsumsi perempuan di Amerika kemudian Dong Quai (Angelica sinensis) yang banyak digunakan untuk mengatasi sakit perut akibat haid dan Wild Yam (Dioscorea villosa) untuk mencegah hot flashes dan sakit pada kandung kemih, namun dosisnya belum diketahui dengan jelas. Sumber tanaman yang banyak di Indonesia yang dapat diperoleh dengan mudah dan dapat mengurangi keluhan-keluhan menopause antara lain adalah yang banyak mengandung isoflavon. Sebelum mengetahui siapa sumber antioksidan berisoflavon perlu dijelaskan siapa isoflavon.
“Isoflavon???”
Isoflavon adalah senyawa yang termasuk kelompok flavonoid dan merupakan estrogen dari tumbuh-tumbuhan atau disebut fitoestrogen yang merupakan sumber estrogen alami dan mempunyai gugus aktif daidzein, genistein dan glisitein.
“Sumber Isoflavon Dan Produk Turunannya???” Senyawa isoflavon tersebar luas pada berbagai bagian tanaman yaitu akar, batang, daun maupun buah. Sebagai metabolit sekunder, isoflavon banyak terdapat pada tanaman khususnya golongan Leguminoceae, antara lain kacang kedelai, kacang tunggak tetapi banyak juga pada semanggi, biji wijen, bunga matahari, bengkuang, jeruk dan tomat. Dalam satu gram protein kedelai mengandung isoflavon sebesar 3,5 mg. Kandungan tertinggi terdapat pada produk kedelai yang difermentasi seperti tempe. Dari beberapa bahan pangan yang telah dianalisis, diketahui bahwa kedelai menempati urutan pertama, mengandung daidzein 10,5-85 mg/100g dan genistein 26,8-120,5 mg/100g berat kering. Sedangkan urutan kedua biji semanggi (clover), hanya mengandung daidzein 0,178 mg/100g dan genistein 0,323 mg/100g berat kering, sehingga sampai sekarang kedelai menjadi pilihan utama sebagai sumber isoflavon. Kedelai yang telah diolah masih memiliki isoflavon meskipun mengalami penurunan. “Berapakah Dosis Isoflavon Yang Diperlukan???” Peneliti dari Department of Food Science and Human Nutrition, University of Illinois, Susan M. Potter dan kawan-kawan telah meneliti hal tersebut dengan memberikan suplementasi protein kedelai yang mengandung isoflavon sebesar 56 mg/hari dan 90 mg/hari selama enam bulan kepada 66 wanita pasca menopause. Hasilnya, kepadatan mineral tulangnya pada kelompok 90 mg/hari meningkat, sedangkan pada kelompok 56 mg/hari tidak. Informasi ini memberikan petunjuk bahwa asupan isoflavon minimal setiap hari sangat diperlukan untuk mencapai efek positif menjaga kesehatan tulang. Di Jepang asupan isoflavon kedelai rata-rata mencapai 35-200 mg/hari, merupakan negara yang warganya paling tinggi mengkonsumsi kedelai. Hal ini tampaknya sangat berkaitan dengan rendahnya insiden osteoporosis wanita-wanita Jepang. Di Indonesia, asupan isoflavonnya kurang lebih hanya 40 mg/hari atau setara dengan 13,3 g kedelai/hari. “Potensi Isoflavon Kedelai???” Mengingat berbagai potensi kedelai sebagai sumber gizi dan senyawa aktif serta prospeknya untuk dikembangkannya produk-produk baru, kedelai banyak disebut sebagai “The golden bean, the miracle bean, food for the future”. Karena kemampuannya sebagai penangkap (scavenger) radikal, yaitu dengan cara mengubah O2.(–) (ion superoksida yang merupakan metabolit tereduksi) yang dikatalisa oleh reaksi dismutasi. Suplementasi isoflavon dalam bentuk kedelai sebanyak 40 g/hari selama 24 minggu mampu melindungi wanita peri menopause dari stres oksidatif. Terjadinya peningkatan aktivitas enzim SOD oleh isoflavon, diduga karena ikatan isoflavon dan reseptor estrogen mampu berdifusi ke dalam inti sel dan dapat berikatan dengan DNA. Ikatan ini menginduksi produksi dan eksprersi mRNA, kemudian keluar inti sel dan mensintesis protein baru di sitoplasma. Dengan demikian masyarakat Indonesia dan juga Asia yang banyak mengkonsumsi kedelai dan turunannya banyak diuntungkan. Orang Jepang yang berkemungkinan mengidap kanker prostat jauh lebih rendah daripada orang Amerika, mengkonsumsi kedelai minimal ± 31 g/hari. Rata-rata orang Asia mengkonsumsi genistein ± 50-75 mg/hari, lebih kurang setara dengan jumlah yang terdapat dalam tempe dengan berat 100 g. Lesitin Kedelai seperti diuraikan di atas sangat penting sekali karena memiliki protein hampir 11 kali dari susu, 2 kali dari daging meskipun kualitas proteinnya rendah tetapi yang paling penting mengandung lesitin yaitu senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, karena lesitin adalah sumber dari kolin yang penting untuk pembentukan sel-sel membran tubuh. Disamping itu lesitin bermanfaat sekali untuk menanggulangi kolesterol dan pengerasan pembuluh darah sehingga mencegah penyakit jantung koroner dan penyakit degeneratif lainnya. Tempe Tempe bukan saja sebagai sumber protein, tetapi juga mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, seng) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh. Jumlah mineral zat besi, tembaga, dan seng berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe. “Khasiat dan Kandungan Gizi Tempe” Tempe berpotensi untuk melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif. Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur. Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. |
Arsip untuk ‘Metabolisme Bahan Alam’ Kategori
Antioksidan Isoflavon
Ditulis oleh Bioma di/pada 5 Juni, 2008
Ditulis dalam Metabolisme Bahan Alam | Leave a Comment »
Susu Kedelai Kaya Gizi Alternatif Saat Ini
Ditulis oleh Bioma di/pada 5 Juni, 2008
Oleh: Nurmadana
SUSU kedelai adalah minuman berkrim seperti susu yang dibuat dengan cara merendam dan menghaluskan kedelai dengan air. Bahkan di negara-negara Asia pun susu kedelai segar dijual oleh penjaja keliling di pinggir jalan.
Kedelai sebagai salah satu sumber protein nabati yang mengandung delapan asam amino penting secara seimbang, salah satunya asam amino Lysin yang memang banyak terdapat pada kedelai dan sangat jarang ditemukan pada makanan nabati lainnya.
Pemerintah Amerika Serikat mengenal kedelai sebagai protein alternatif yang setingkat dengan daging. Formula bayi dari makanan kedelai dianggap sebagai sumber protein yang baik seperti halnya formula yang berasal dari susu kedelai yang dapat diberikan kepada bayi pada semua usia yang alergi terhadap susu sapi, dan pada bayi prematur pun sangat memerlukan protein lebih banyak yang terdapat dalam susu ibu atau susu kedelai, begitu yang tertulis pada artikel yang dimuat dalam The American Journal Of Clinical Nutrition yang pada kesimpulannya menyebutkan selain bagi bayi prematur, protein kedelai dapat menjadi satu-satunya sumber protein dalam tubuh manusia.
Beberapa kelebihan kedelai dibanding berbagai macam daging yaitu kedelai tidak mengandung kolesterol juga merupakan sumber yang baik dari Isoplavones dan Phytochemical penting lainnya yang dapat melindungi tubuh dalam melawan serangan penyakit kanker dan hati. Semua kedelai merupakan sumber serat dan mineral yang bagus seperti besi, kalsium, fosfor, magnesium, dan vitamin-vitamin B seperti thiamin, riboflavin dan niasin.
Dengan mengolah kedelai pada proses pemasakan, kedelai akan mengeluarkan senyawa trypsin inhibitors yang merupakan penghambat pencernaan protein dalam tubuh, serta dapat menurunkan kandungan asam phytik bagi yang sengaja mengurangi asam phytik, dari itu kita tidak perlu khawatir mengenai kelemahan kedelai tersebut.
Dari literatur yang menyebutkan kandungan Isoflavon pada kedelai sebanyak 0,1 – 2 mg/gr protein mampu menghambat kalsium keluar bersama urin hingga 50%, angka kehilangan kalsium menjadi lebih rendah dibanding konsumsi protein hewani. Dengan demikian memilih susu kedelai sebagai susu alternatif untuk saat ini tidak hanya dapat mengecilkan volume pengeluaran keluarga, juga dapat membantu mempertahankan kepekatan tulang.
Mahasiswa Akademi Gizi, Poltekkes Ptk
Ditulis dalam Metabolisme Bahan Alam | Leave a Comment »
Jalan Panjang Minyak Jatropha Menjadi Biofuel
Ditulis oleh Bioma di/pada 3 Juni, 2008
Oleh Merry Magdalena
JAKARTA–Manfaat minyak jarak alias Jatropha Cursas sudah lama didengungkan sebagai bahan bakar alternatif terbarukan. Sayangnya teknologi pengolahannya belum dikuasai penuh oleh ilmuwan Indonesia. Pada 2010 mendatang pemerintah bertarget akan mensubstitusi 10 persen BBM kita dengan energi terbarukan alias biofuel.
Sumber biofuel itu adalah singkong, minyak jarak, kelapa sawit, dan tebu.“Ada banyak aspek yang harus kita kuasai seputar tanaman jarak ini, di antaranya budi daya penanaman, proses pengolahan, dan pemanfaatannya. Selain itu juga dibutuhkan riset dan pengembangan lebih jauh terhadap minyak jarak,” ungkap Prof Said D Jenie, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kepada pers di sela acara “Valorization of Jatropha Cursas as Sustainable Resource for Biofuel and Non Energy Utilization”, di Jakarta, (21/11).
Pada kesempatan ini, sejumlah ilmuwan dalam dan luar negeri saling berbagi ilmu pengolahan minyak jarak sebagai biofuel. Salah satunya adalah ilmuwan asal India, SN Nail dari Indian Institute of Technology Delhi.
Proses
“Jarak pagar adalah tanaman tropis yang tahan kering yang kini banyak dibudidayakan di Amerika Tengah dan Selatan, Asia Tenggara, India, dan Afrika. Tanaman ini dikenal bermanfaat meningkatkan kesuburan tanah,” ungkap Nail dalam presentasinya.
Di India, tanaman jarak pagar tumbuh baik secara liar maupun secara budi daya. Dari studi diketahui bahwa bukan hanya bijinya, bahkan buah jarak pagar juga mengandung minyak. Jika diperas, dari buah dapat dihasilkan 20 persen minyak, biji 40 persen. Di sana lahan jarak sudah mencapai ribuan hektare, terutama wilayah Rasashtan, Orissa, Chatisgarh.
Nail menjelaskan proses pengolahannya melalui beberapa tahap. Pertama, biji jarak dibersihkan lalu menuju mesin pressing. Hasilnya adalah minyak mentah yang harus melalui proses sentrifugasi, sedimentasi, dan penyaringan, dan dihasilkan minyak bersih yang jernih berwarna kekuningan.
Namun ini belum berarti minyak sudah bisa langsung dipakai di mobil. Konverter dibutuhkan untuk menyaring minyak dari asam lemak jenuh yang ada agar tidak merusak mesin kendaraan.
Tanaman jarak penghasil biodiesel ini berasal dari jenis tanaman jarak pagar yang dalam bahasa Inggris bernama Physic Nut dengan nama species Jatropha curcas, tanaman ini seringkali salah diidentifikasi dengan tanaman jarak yang dalam bahasa Inggris disebut castor bean dengan nama species Ricinus communis.
Manfaat minyak jarak sebagai substitusi bahan bakar sebetulnya telah lama diketahui. Misalnya melalui review yang dipublikasikan oleh Gubitz (1999) pada jurnal Bio resource Technology edisi 67, tahun 1997 grupnya di Austria telah mempublikasikan hasil uji adaptasi minyak jarak pada mesin diesel standar. Di dalam review tersebut juga disebutkan bahwa jauh sebelum pengujian tersebut dilaksanakan, pada tahun 1982, peneliti dari Jepang juga telah memperoleh hasil memuaskan dalam menguji performansi mesin dalam menggunakan minyak jarak di Thailand.
Pengembangan minyak dari tanaman jarak melalui pendekatan ilmiah di Indonesia dipelopori oleh Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1997 dengan fokus ekstraksi minyak dari tanaman jarak.
Potensi Tinggi
“Di BPPT studi tentang tanaman jarak pagar sebagai biofuel baru dilakukan dua tahun belakangan ini. Jarak pagar selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar biofuel, dapat juga diolah untuk obat-obatan, sabun, pakan ternak, dan sebagainya. Namun semua pemanfaatan tersebut memerlukan teknologi. Di sinilah letak kelemahan ilmuwan kita. Walau sudah dikenal lama, tanaman jarak pagar tergolong baru diketahui gunanya sebagai bioenergi,” komentar Dr Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi BPPT.
Jarak pagar sesungguhnya punya potensi cukup tinggi sebagai bahan bakar alternatif. Dibandingkan dengan kelapa sawit yang membutuhkan proses produksi lebih rumit dan mahal, minyak jarak lebih sederhana pengolahannya.
Di samping itu, minyak jarak tidak dapat dikonsumsi karena mengandung racun. Dengan kondisi itu, minyak jarak sebagai energi alternatif tidak akan mengganggu bidang konsumsi. Berbeda dengan minyak sawit yang juga dialokasikan sebagai minyak goreng.
“Mereka yang mau terjun ke industri jarak pagar harus juga memikirkan keuntungan dari bagian lain, bukan hanya minyaknya saja. Dari seluruh biji jarak hanya sepertiga saja yang bisa menjadi minyak. Dua per tiganya berupa ampas yang bisa dimanfaatkan sebagai briket atau bahan baku boiler. Itulah yang sudah dilakukan di Afrika dan selayaknya kita tiru,” demikian Unggul.
Selain dengan India, BPPT beserta ITB akan bekerja sama dengan Belanda untuk mendalami teknologi pengolahan jarak. Indonesia akan mengirimkan 10 peneliti ke Universitas Groeninghen, Belanda. n
Ditulis dalam Metabolisme Bahan Alam | Leave a Comment »